Selasa, 16 Februari 2010

sesuatu yang baru

terima kasih untuk berkat hari ini

Nikmatnya Menunda

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap
hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia 
(Kolose 3:23)

Suatu sore saya berniat mengerjakan tugas untuk esok hari, dengan segera. Namun, ketika melihat sebungkus kacang kulit, saya menyempatkan diri untuk duduk menikmatinya -- hingga habis. Setelah itu saya menonton film bagus di televisi. Ketika melihat jam, sudah waktunya makan malam. Selesai makan malam, seorang teman datang bertamu! Selanjutnya bisa ditebak: saya mengantuk. Maka, saya memutuskan untuk tidur dan mengerjakan tugas itu dengan setengah mati pada dini hari. Sebenarnya tugas itu tidak berat, tetapi terasa begitu berat karena saya menundanya! Menunda itu nikmat. Selagi bisa menghindar, kita cenderung menunda pekerjaan. Padahal menunda kerja berarti menambah persoalan!

Firman Tuhan mengingatkan bahwa apa pun yang menjadi tugas kita, harus dilakukan dengan segenap hati  Dalam kata ini terkandung sikap melakukan sesuatu dengan segera, bersemangat, serius, tekun, tidak main-main, dan tidak menunda-nunda. Ketika Tuhan memercayakan pekerjaan dan memberi waktu bagi kita untuk menyelesaikannya, Dia ingin kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Apalagi firman Tuhan meminta kita untuk bijak mempergunakan waktu yang ada  sebab waktu yang kita pakai untuk menunda sesuatu, takkan kembali. Akibatnya, kita yang rugi.

Apakah Anda memiliki kebiasaan menunda? Belum terlambat untuk berubah! Mulai hari ini, lakukanlah segala pekerjaan dengan semangat, segera, tanpa menunda. Jika kita tidak menunda, kita dapat mengerjakannya tanpa terburu-buru. Mari manfaatkan setiap waktu dengan maksimal. Dan kita percaya, Tuhan akan menyempurnakan karya kita

JANGAN MENUNDA UNTUK MELAKUKAN
APA YANG BISA ANDA LAKUKAN HARI INI

Rabu, 27 Januari 2010

Jantan Seperti Yunus

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan;
aku berkata: "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku",
dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku
(Mazmur 32:5)


ORANG YANG JANTAN BERANI MENGEVALUASI DIRINYA SENDIRI
BAHKAN KETIKA IA BERBUAT SALAH

Terkadang ada orang yang suka salah kaprah dalam mendefinisikan konsep "bersikap jantan". Mereka berpikir bahwa sikap jantan itu identik dengan merokok, memiliki tato di lengan, atau berani berkelahi dengan siapa saja. Padahal sikap jantan artinya berani berbuat berani bertanggung jawab, jadi tidak ada kaitan dengan hal-hal lahiriah.

Yunus mengajarkan kepada kita sebuah contoh tentang bersikap jantan yang sesungguhnya. Sikap tersebut muncul tatkala Tuhan mendatangkan badai besar yang menghantam kapal yang ia tumpangi. Para penumpang kapal berteriak ketakutan. Bahkan, nakhoda kapal meminta agar Yunus ikut berseru kepada Allahnya, untuk memohon keselamatan. Dalam situasi seperti itu Yunus bisa saja bersikap tidak peduli. Apalagi ia masih bisa tidur nyenyak dan tidak terganggu dengan segala guncangan yang terjadi. Toh pada saat itu tak seorang pun tahu bahwa badai tersebut terjadi karena Allah sedang "mengejar" dirinya, sehingga ia harus bertanggung jawab.

Namun, Yunus bukanlah orang seperti itu. Dengan jantan ia mengakui bahwa badai tersebut terjadi akibat ulahnya -- ia bersalah kepada Allah. Ia pun bukan sekadar mengakui kesalahan, melainkan juga rela menerima konsekuensi kesalahannya, yaitu dilempar ke laut. Itulah sikap jantan: berani mengakui kesalahan dan menerima konsekuensinya. Sikap jantan Yunus patut kita acungi jempol.

Tidak mudah untuk mengakui kesalahan kita.  Dan, lebih tidak mudah lagi untuk berani menanggung konsekuensi dari kesalahan kita. Akan tetapi, sikap demikianlah yang harus kita tunjukkan jika kita ingin disebut sebagai orang yang bersikap jantan.

Minggu, 24 Januari 2010

Martir

Mereka yang berlaga dalam Arena Pekabaran Injil, Pelayanan dan Kesaksian, Para Rasul Kristus, para martir …
  • Matius, mati sebagai martir disembelih di Ethiopia 
  • Markus, mati sebagai martir diseret kejam oleh kuda di Alexandria 
  • Lukas, mati sebagai martir digantung di pohon zaitun di Yunani 
  • Yohanes, murid Yesus direbus dan digoreng di atas sebuah panci dan dibuang ke Patmos 
  • Petrus, mati sebagai martir disalibkan dengan kepala ke bawah di kota Roma oleh Nero 
  • Yakabus, yang lebih tua, dipenggal di Yerusalem 
  • Yokabus, yang lebih muda, martir dengan dilempar dari puncak bangunan dan dipukul oleh tongkat sampai mati. 
  • Bartolomeus, mati sebagai martir dikuliti hidup-hidup 
  • Andreas, mati sebagai martir disalib yang berbentuk x 
  • Thomas, mati sebagai martir ditombak di India 
  • Yudas, murid Yesus yang lain, martir dengan dipanah sampai mati 
  • Matias, mati sebagai martir dengan cara dipenggal
  • Paulus, mati sebagai martir dipenggal oleh Nero di Roma
  • Pollycarpus, Irenius, Tertullianus, Perpetua …. dan masih banyak lagi. 
Lembaran ini taka akan sanggup memuat daftar nama para martir yang berjuang di Gelanggang Pekabaran Injil, di Arena Pelayanan Kesaksian dengan darah keringat dan air mata.
Tubuh mereka dibakar, dikuliti, digiling oleh gigi singa, dikoyak oleh cakar macan tutul, menjadi umpan buaya, namun tidak sedikitpun mereka gentar, tak setapakpun mereka mundur dalam pelayanan dan kesaksian, tak sedikitpun mereka mengingkari janji mereka untuk setia mengabdi kepada Kristus yang telah mengutus mereka, dan mengutus kita semua.
Biarlah kehidupan kita dihabiskan dalam pelayanan, agar nama Tuhan dapat terlihat dan dipermuliakan, sedangkan kita sendiri tidak terlihat, bahkan nama kita pun tidak mendapat pujian.

Tuhan Memahami Kita

Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia....
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpaldengan dosa kita
(Mazmur 103:8,10)


Sebagai orang kristiani, kita perlu berusaha hidup kudus. Melayani Tuhan dan sesama. Berupaya berbuat baik untuk membuat Tuhan tersenyum. Menuju kesempurnaan. Namun, di tengah perjuangan itu, jika suatu kali Anda gagal dan jatuh, jangan frustrasi. Tuhan tidak putus asa terhadap Anda! Bangkitlah lagi. Jaga terus agar itikad untuk hidup memuliakan Dia terus menyala!

Tuhan menghargai usaha kita
sekalipun hasilnya kadang mengecewakan-Nya

Dia dan saya sama di mata Tuhan

Aku berkata kepadamu: ...
siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama
dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala
(Matius5:22)


Mungkin kita pernah berpikir, berkata, dan bertindak berdasarkan "kita" lebih baik dari "mereka". Ini hanya akan memunculkan benih kebencian. Keragaman agama, budaya, warna kulit, suku, ras, status sosial, dan sebagainya adalah anugerah Tuhan yang mesti kita rayakan. Apa pun perbedaan yang tampak, mereka berhak dan harus kita kasihi seperti kita mengasih diri sendiri. Dan, kita perlakukan sebagaimana kita ingin diri kita diperlakukan.

Semua orang, tanpa kecuali, adalah sama dan sederajat

Rabu, 20 Januari 2010

DUA JENIS KEMATIAN

Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, 
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: 
Itulah ibadahmu yang sejati 
(Roma 12:1)

Urip Ariyanto alias Mbah Surip, yang terkenal dengan lagunya Tak Gendong, meninggal dunia. Sangat mendadak. Usianya belum genap enam puluh tahun. Ia juga tengah populer-populernya. Diduga karena serangan jantung. Masyarakat pun terkaget-kaget. Bahkan ada yang awalnya tidak percaya. Dokter Ari Fahrial Syam, pakar medis dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, seperti dikutip koran Kompas, berujar, "Pengalaman dari artis dan seniman kita, termasuk yang terjadi pada almarhum Mbah Surip, membuktikan, akumulasi antara kelelahan, kurang tidur, banyak mengonsumsi kopi, dan merokok terus-menerus, mencetuskan terjadinya gangguan akut pada tubuh, di antaranya serangan jantung yang berakibat fatal."

Umur manusia memang ada di tangan Tuhan, tetapi dalam banyak kasus kematian sebetulnya manusia juga punya andil. Bisa dikatakan kematian itu ada dua jenis. Ada kematian yang terjadi di luar kendali kita. Misalnya karena faktor usia lanjut, kecelakaan, atau bencana alam. Ada juga kematian yang terjadi, atau dipercepat, karena ulah kita sendiri, entah karena gaya hidup yang sembarangan, atau karena pola makan yang serampangan.

Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita menjaga tubuh. Bukan saja supaya tubuh kita sehat walafiat, melainkan juga karena itu adalah bagian dari ibadah kita kepada Tuhan. Sebab segala sesuatu -- termasuk tentunya tubuh kita, adalah dari Tuhan. Maka, sudah sepatutnyalah kita pun mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan. Kiranya Tuhan memberi kita kebijaksanaan untuk hidup sehat; bukan hanya secara rohani, melainkan juga secara jasmani.

MENJAGA KESEHATAN TUBUH ADALAH BAGIAN DARI
IBADAH KITA KEPADA TUHAN
Template by - Bimbinganmu